Belajar dari Pohon Mangga

Dinar Apriyanto

Dinar Apriyanto

Suatu siang, Alloh mempertemukan saya dengan Orang yang saya kagumi sejak saya masih duduk di Bangku SMA, bukan karena wajah…bukan karena kekayaan…dan bukan juga karena “ningrat” nya beliau..tapi justru karena kesederhanaan, kesantunannya, dan ilmunya yang Subhanalloh..begitu LUAS.

Beliau yang kini berusia kepala empat itu, menurut subjektif penilaian saya, berhasil BERTRANSFORMASI menjadi manusia “utuh” yang ‘KAFFAH’ dalam mendidik keluarga, berwirausaha dan menjadi seorang Manajer di sebuah Bank Syariah ternama di sebuah Kota. Entah, apa yang membuat saya merasa “harus” menemui beliau siang itu.

Di tengah teriknya matahari yang begitu menyengat siang kala itu, dan lelahnya perjalanan sekitar 100 km yang sudah saya tempuh baru saja..tampaknya tidak terlalu mengusik keinginanku untuk bertemu dengan beliau. Pagar memanjang sekitar 100 meter mengelilingi kebun Organik beliau yang nampak begitu mencolok diantara hamparan sawah bertanaman padi yang masih nampak menghijau. Pagar besi itu terbuka lebar …dan dengan jelas nampak rumah bernuansa serba coklat dan berbahan dasar kayu begitu nampak serasi berdiri kokoh diantara ratusan sayuran dan buah organik..ah, suasana ini begitu saya rindukan setiap kali menginjakkan kaki di tempat ini.

Terik panas matahari tidak terlalu terasa, karena udara disini cukup disuplai dari reaksi fotosintesis tanaman-tanaman hijau yang disusun sangat rapi oleh beberapa “asisten” kebun milik beliau. Disudut kebun, nampak kelinci, parkit, dan beberapa hewan lain memenuhi kandang-kandang mungil yang beratapkan seng. Kedatangan saya rupanya tidak disadari beliau, mengendap-endap dengan langkah kecil, ingin rasanya “mengagetkan” beliau..hmm, maklum, lama tidak bercanda dengan beliau…kira-kira 10 langkah didepan saya, beliau sedang asyik mengais tanah dengan cangkul kecil membuat sebuah gundukan tanah…ups..ternyata beliau sudah menyadari kehadiran saya lebih dulu…Tawa-pun pecah seketika, lalu kami berdua duduk di teras rumah gubuk coklat bernuansa kayu itu.

Ketika bertemu beliau saya memilih untuk tidak banyak berkata-kata, karena saya selalu ingin banyak mendapatkan Inspirasi dari beliau…Buku baru, film inspiratif, kisah berlibur dengan ketiga putranya, dan pengalaman baru berinteraksi dengan para karyawan beliau, menghiasi kisah beliau siang itu…buku baru yang selesai beliau baca telah membantu beliau “mengubah” cara pandangnya tentang mendidik anak, bahwa Rasululloh ternyata tidak menyerahkan seluruh “beban” pendidikan anak pada Istri saja, namun beliau juga seorang pendidik anak yang HANDAL.

Film inspiratif yang ditonton bareng dengan keluarga ternyata telah menghembuskan motivasi bagi putranya yang ketiga, sehingga kini rajin Membaca Qur’an, dan kisah asyiknya beliau berlibur dengan ketiga putranya membuat saya “iri” betapa beliau sungguh beruntung memiliki kualitas dan episode kehidupan yang luar biasa…dan kini kembali beliau bertutur dengan nasehatnya yang sangat kuat terekam dalam memori saya,

“Kehidupan saya seperti sekarang ini tidak lepas dari pilihan hidup saya masa lalu, memilih untuk berwirausaha saat itu bagi saya bukanlah pilihan yang mudah, karena saya harus berhadapan dengan “idealisme” ayah yang ‘memaksa’ saya untuk meninggalkan usaha yang telah dirintis, dengan alasan penghasilan yang tidak menentu, namun saya berpikir saat itu bahwa berwirausaha adalah sebuah proses, seperti filosofi pohon Mangga, jangan berpikir bahwa berwirausaha itu Instan untuk berhasil, namun ibarat pohon mangga, di awal mula ia hanyalah bibit yang kemudian akan tumbuh akar di sekitar bibit tersebut, sedikit menyembul berwarna kehijauan yang kelak ia akan berubah menjadi batang, semakin bertambah waktu, ia akan bertambah tinggi, dan muncullah daun yang semakin terlihat membesar, dari daun ini, maka ia akan berfotosintesis, sehingga dengan cepat pohon akan membesar. Ketika membesar, ia pun akan bercabang dan memiliki ranting…pada saatnya pohon itu akan berbuah yang buahnya akan bisa dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya..dan ia pun juga mampu digunakan untuk berteduh.

“Maka bersabarlah dalam berwirausaha, karena diawal mungkin engkau belum tahu manfaatnya karena belum berbuah, namun bila kamu Istiqomah..Insya Alloh suatu saat ia akan “berbuah” dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarmu!” pesan beliau pada saya siang itu…

Trimakasih pak…Sungguh, inilah yang membuat ku selalu ingin bertemu dengan Bapak…Ilmu yang begitu dalam dan bermanfaat!”

***

@DinarApriyanto

Pin BB : 3170f058

WA : 088806007199

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.