Belajar Dari Fathan Kamil

Belajar-Dari-Fathan-Kamil.jpg

Tahun lalu saya ditelepon oleh Fathan Kamil, adik kelas saya di IPB Bogor. Meski adik kelas, dia adalah teman diskusi saya saat di Bogor. Kami sering berdiskusi tentang pengembangan diri, spiritualitas, bisnis dan leadership. Rumah kost kami yang berdekatan memungkinkan kami bisa sering berdiskusi. Setelah kami lulus dari IPB, kami sibuk dengan pekerjaan dan bisnis masing-masing sehingga kami jarang berkomunikasi.

Nah, saat ia menelpon saya, tentu itu mengobati rasa rindu yang selama ini terpendam. Kami pun bersepakat bertemu melepas rindu. Setelah kami ngobrol ringan ke sana kemari, ia kemudian berkata “mas Jamil, dengan keberhasilan dan popularitas mas Jamil saat ini, sudah saatnya kita berkontribusi untuk kampus kita dulu mas, IPB. Ternyata banyak mahasiswa yang diterima di IPB tetapi mereka tidak mampu, kita wajib mencari cara bagaimana membantu mereka.”

Saya terus menyimak apa yang ia ucapkan. Fathan Kamil kemudian melanjutkan “itu yang pertama mas. Yang kedua, betapa banyak talenta potensial alumni IPB yang belum kita kapitalisasi, kita perlu memfasilitasi mereka dan mensinergikan mereka agar memberikan dampak yang besar bagi kemajuan negeri ini. Untuk kedua hal inilah seyognyanya mas Jamil mengambil peran”.

Ajakan Fathan Kamil ini ternyata sangat serius, ia kemudian menjadi ketua Yayasan Alumni Peduli IPB yang menggalang dana dari para alumni untuk kemudian dikelola menjadi dana abadi untuk beasiswa mahasiswa IPB. Lelaki kelahiran Jakarta ini, menggandeng Bahana Securitas untuk pengelolaan dana abadi tersebut.

Pelajaran pertama yang saya peroleh dari perjumpaan dengan Fathan Kamil adalah “Jangan lupakan sejarah.” Kita perlu terus berperan aktif memajukan institusi pendidikan dimana kita dulu pernah belajar dan dibesarkan.

Dari berbagai diskusi lanjutan, saya juga mendapat pelajaran berharga lain “apabila kita ingin menjadi besar maka kita perlu berpikir besar, berjiwa besar dan bernyali besar serta berhati lapang”. Dia menceritakan pengalamannya “di bisnis yang aku jalani mas, terkadang yang benar saja bisa salah, kita perlu sangat hati-hati tetapi harus tetap berani membuat terobosan”.

Dan pelajaran yang juga sangat berarti untuk saya dapat adalah “popularitas tidak menjamin likuiditas”. Pebisnis sukses itu mencurahkan energinya untuk membangun bisnis bukan aktif di social media. Membangun kerajaan bisnis itu tentang cash flow bukan banyaknya follower, banyaknya like, komentar atau share di social media. Kecuali apabila kita memang ingin fokus membangun brand pribadi, bukan membangun kerajaan bisnis.

Rasanya sudah kangen ingin jumpa lagi dengan Fathan Kamil, menyerap ilmunya dan menyerap energi berkontribusinya untuk kemajuan almamater dan negeri ini.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership
Founder Akademi Trainer
Inspirator SuksesMulia

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.