Belajar dari Cookie Run

FazarFirmansyah-TP-251013Sebelumnya, ada yang sudah bermain cookierun? Atau jangan-jangan sudah ada yang mencetak skor tertingi? Hehehe.. 🙂

Akhir-akhir ini game cookierun menjadi mainan baru saya. Game berjenis side-scrol ini, menceritakan tentang petualangan tokoh game berwujud kue jahe yang berusaha kabur melarikan diri dari kejaran penyihir. Permainannya pun sangat sederhana, cukup menekan tombol “jump” dan “slide”. Meskipun cara bermainnya sederhana, secara grafis games tersebut tidaklah sederhana.

Namun dalam postingan kali ini, saya tidak akan membahas trik-trik ataupun membagikan cheat cookierun tersebut. Disini saya akan sedikit memetik pelajaran dari game yang berslogan “Sweet Escape Adventure” ini. Bukan berarti saya menggurui Anda, hanya saja mengingatkan jika dari game yang sering menjadi biang malas anak-anak ini, kita bisa memetik pelajarannya.

Dari tampilan game ini tampak mudah untuk dimainkan, tapi nyatanya agak gampang-gampang sulit bagi saya. Pelajaran pertama yang bisa dipetik adalah soal menghargai waktu. Dalam game ini, si cookie harus mendapatkan koin, jelly, dan poin-poin lainnya dengan konsekuensi dikejar waktu. Jika waktu habis, dan poin yang terkumpul sedikit maka permainan pun selesai.

Dalam kehidupan pun kita sedang dikejar-kejar waktu seperti halnya si cookie tadi. Bedanya yang kita kumpulkan adalah amal kebaikan. Ingat waktu tidak akan bisa diulang. Sama halnya jika ada poin yang terlewat didapat dalam game tersebut, maka si cookie tidak bisa brlari mundur kembali untuk mendapatkannya. Seperti kata pepatah “life must go on”.

Pelajaran kedua adalah soal memilih partner hidup. Dalam CookieRun memilih pet dan perlengkapan berpetualang bisa mempengaruhi penilaian skor kita dan pencapaian target dari game itu sendiri. Dalam hidup pun sama. Untuk meraih skor tertinggi, kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita butuh partner yang bertugas saling melengkapi, mengingatkan, dan menutupi kelemahan diri kita.

Salah-salah memilih partner, bisa jadi membuat kita terjerumus kedalam kehancuran. Dan poin terakhir yang bisa dipetik adalah soal bermain jujur. Kita bisa saja menggunakan cheat untuk memperoleh skor dan poin yang tinggi. Tapi itu kembali ke tujuan kita bermain. Dalam hidup pun selalu ada godaan pada kita untuk terhasut mencari jalan pintas menuju sukses yang bisa merugikan banyak orang.

Kita mungkin bisa sukses dengan jalan pintas tersebut, tetapi banyak pihak yang dirugikan dan itu hanya akan menambah investasi dosa kita dan hasil yang didapat pun jauh dari keberkahan dan ridho Illahi.

So, tidak selamanya game itu membuat malas. Karena yang namanya belajar, bisa dari mana saja, lewat media apa saja, dan dari siapa saja. Saya Fazar Firmansyah. Semoga bermanfaat 🙂

Fazar Firmansyah

Bagikan:

2 thoughts on “Belajar dari Cookie Run”

  1. Keren Mas Fajar, ambil hikmah dari games.

  2. fazar says:

    Terimakasih mbak sudah membaca. Semoga bermanfaat untuk semua 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.