Behind the Scene Just Relax

justrelax.jpg

Pagi ini, mulai pukul 05.58 saya menulis tulisan ini. Anda, pembaca setia website saya ini, tentu tahu bahwa setiap Jumat saya menulis Just Relax; sesuatu yang ringan, lucu namun tetap memberi pelajaran. Dan perlu Anda tahu, bagi saya menulis just relax adalah bagian yang paling sulit dibandingkan menulis yang lain.

Setiap hari saya mencari ide dan kemudian menuliskannya di pagi hari. Sebelum subuh saya bangun dan setelah berbagai aktivitas rutin pagi hari selesai menjelang pukul 06.00 pagi, saya kemudian merenung sejenak dan mencari ide. Begitu ide didapat segera saya buka iPad dan menuliskannya.

Namun untuk ide Just Relax, saya belum bisa menyiapkan hanya sejenak di pagi hari. Saya perlu menyiapkan beberapa hari sebelumnya. Mengamati kejadian, membaca, mendengar dan bertanya. Dan yang paling banyak saya minta untuk mencari ide Just Relax adalah istri saya.

Untuk Just Relax yang saya tulis pagi ini saya sudah merenungkan usai memberikan Seminar di Kementerian Kesehatan di Bogor kemarin. Dalam perjalanan Bogor-Bandung saya terus mencari, tema Just Relax yang pas Jumat ini, ya? Dan kini saya sudah duduk di salah satu kamar hotel di Bandung untuk nanti memberikan training di hari terakhir bagi para pemimpin Jasa Rahardja. Ide Just Relax belum juga belum ketemu, padahal sudah pukul 06.20 hehehehe. Sabar ya…

Baru pada pukul 06.29 saya dapat ide Just Relax dari kiriman whatsapp seorang teman. Karena saya sedang di Lembang, Bandung, maka ceritanya tentang orang Bandung.

Dikisahkan, seorang pemuda bernama Asep yang bekerja di Jakarta pulang ke Lembang. Begitu sampai rumah ia memeluk orang tuanya dan mencium tangan mereka.

Ia pun mulai nyerocos bercerita, “Bapak, ibu, saya teh alhamdulillah sudah tidak jadi pesuruh lagi di kantor. Saya sekarang sudah naik pangkat menjadi office boy. Tetapi sekarang setiap Sabtu saya harus ikut wik en. Bos saya katanya sih orang Taiwan tapi saya tidak percaya karena wajahnya persis orang China.”

Dengan penuh semangat, Asep meneruskan ceritanya, “Terkadang di kantor suka ada pesta. Namanya sih keren yaitu stending parti tapi gak ada korsi. Yang paling Asep sebel, Asep pernah diajak makan sama teman kantor, katanya selp serpis tapi tetap saja makannya harus ngambil sendiri. Sebel, kan?”

Kemudian bapaknya pun menjawab, “Makanya supaya kamu gak sebel, jangan terlalu sering baca koran. Sebab berita di koran banyak yang aneh-aneh dan tidak benar. Jadi lebih baik kamu baca nyuspaper supaya kamu pinter.” Hehehe.. Sekarang pukul 06.53. Saatnya saya break fast di restoran hotel.

SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

7 thoughts on “Behind the Scene Just Relax”

  1. isya julianto says:

    Hihihi… Tapi kali ini just relaxnya agak beda….

    Saya ga nyangka ternyata bikin sesuatu yang bikin orang lain tersenyum itu ternyata sulit. Tapi semangat kek Jamil untuk menulis luar biasa, kali ini saya terinspirasi bukan dari tulisannya kek Jamil. Tapi semangat dan proses kakek…

    Terus semangat ya kek…

    1. Jamil Azzaini says:

      Doakan jadi amal sholeh ya…

  2. dwi ishak says:

    Di Bandung the nte’ aya Break fast Kek. Ayana “brekfes”

    1. Jamil Azzaini says:

      Iya, ya, hehehehe

  3. Ali samsudin says:

    mmmm gitu ya, makanya….

    1. Jamil Azzaini says:

      Makanya apa mas?

      1. Ali samsudin says:

        makanya ada usaha lebih hasilnya jg lebih kek

Leave a Reply

Your email address will not be published.