Beda Sentuhan Beda Kenikmatan

@adeyusandiTidak ada satu manusia pun dimuka bumi ini yang 100% sama, sekalipun ia memiliki saudara kembar. Wajah boleh sama, tubuh boleh serupa tetapi dapat dipastikan sidik jari tiap orang pasti berbeda karena itulah ada istilah setiap orang memiliki garis tangan masing-masing. Karena garis tangan berbeda maka sentuhannya pun akan berbeda sehingga kenikmatan yang dihasilkan juga berbeda. Mau bukti? Berikut ini ceritanya, kita ke te ka pe…

Salah satu makanan tradisional khas Indonesia adalah gado-gado. Dari namanya sudah mencerminkan bagaimana isi makanan tersebut, beragam sayur mayur di padu jadi satu dengan sentuhan kenikmatan bumbu kacang yang nendang di lidah para penikmatnya. Gado-gado itu sendiri bisa disajikan dengan lontong atau istilah bekennya galon dan dapat juga disajikan dengan nasi alias ganas.

Karena makanan ini banyak sekali yang menjualnya, saya pun memiliki langganan pedagang gado-gado favorit. Makanan khas Indonesia ini dijual oleh seorang pria berdarah Sunda. Entah mengapa rasa dari gado-gado yang dijualnya sangat berbeda jika dibandingkan dengan gado-gado yang mangkal di tempat lain. Sayuran sama, bumbu kacang sama, tetapi rasanya bisa berbeda. Hal tersebut dipegaruhi oleh cara si pedagang gado-gado tersebut meracik bumbu kacang yang menjadi kunci dari kenikmatan sebuah gado-gado.

Pernah suatu ketika pedagang gado-gado tersebut tidak berjualan, dan agar tetap ada pendapatan ia digantikan oleh seseorang yang secara penamilan lebih tua. Pikir saya, yang masih muda saja rasanya sudah mantap apalagi kalau gado-gado ini dibuat oleh orang yang secara usia lebih tua alias sudah lebih dahulu membuat gado-gado. Ternyata tidak sesuai harapan, menurut saya tidak senikmat biasanya baik dari rasa maupun takaran. Tetapi karena sudah dibeli maka tetap saya habiskan selain menghindari mubazir juga memang saat itu dalam keadaan lapar.

Dalam kesempatan lain, pedagang gado-gado langganan saya kembali tidak berjualan dan kali ini digantikan oleh orang yang lebih muda, entah adik atau kerabatnya. Ternyata rasanya pun berbeda dari yang biasa saya nikmati. Ketika pria tersebut kembali berjualan, ada pelanggan yang secara terang-terangan menyampaikan bahwa gado-gado buatannya memang yang paling enak. Pelanggan tersebut berkata “membuat gado-gado itu ibarat membuat kopi, kalau enak atau tidaknya secangkir kopi tergantung adukannya kalau gado-gado tergantung racikannya.”

Hebat atau tidaknya seseorang tidak selalu ditentukan oleh faktor eksternal saja, tetapi juga ditentukan oleh diri sendiri. Contohnya dalam hal membuat gado-gado, mengapa dengan alat dan bahan yang sama tetapi beda yang membuat rasanya pun akan berbeda. Sama juga dengan musik, lagu boleh sama, aransemen juga sama tetapi jika penyanyinya berbeda maka hasilnya pun akan berbeda.

Sudahkah didalam menghasilkan karya kita mampu tampil seperti pedagang gado-gado pada cerita diatas? Dengan sumber yang sama namun mampu memberikan hasil unggulan.

@adeyusandi

Bagikan:

One thought on “Beda Sentuhan Beda Kenikmatan”

  1. EventJogja says:

    memang benar, waktu boleh sama 24 jam, tapi cara “meraciknya” berbeda maka kemungkinan hasil rejekinya juga berbeda 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.