Bapakku Guru Besarku

bapakku.jpg

Bapakku Guru BesarkuSetiap pulang ke Lampung saya selalu mendapat nasihat dan pelajaran dari orang tua saya. Nasihat yang standar dan berulang adalah, “Jangan sekali-kali kamu mendapatkan uang dengan cara yang haram. Carilah uang yang banyak dengan cara yang halal.” Nasihat ‘wajib’ berikutnya, “Ojo lali karo Gusti Alloh (jangan lupakan Allah SWT).”

Selain nasihat standar biasanya saya meminta nasihat tambahan, spesial untuk saya. Pada lebaran kali ini nasihat yang saya dapat adalah, “Kesombongan akan menjatuhkan orang. Fir’aun sombong dengan kekuasaannya, maka ia ditenggelamkan di laut oleh Allah. Qorun sombong dengan hartanya, maka ia ditimbun di dalam bumi. Orang-orang yang sombong dengan popularitasnya, banyak yang mati karena over dosis.”

Nasihatnya pendek tapi ‘nancep jleb’. Bertemu dengan orang sombong memang faktanya sangat menjengkelkan. Apalagi bertemu dengan orang bodoh tapi sombong dan sudah merasa sangat pintar. Wajar juga bila Allah membenci orang yang miskin tetapi sombong.

Selain nasihat, saya juga mendapat pelajaran dari tindakan bapak saya. Usianya sudah lebih dari 76 tahun tapi ia masih kuat memdistribusikan dana zakat dan infak keluarga, titipan orang dan titipan sahabat-sahabat saya. Dari satu kampung ke kampung lain, ia datangi satu per satu orang-orang miskin yang sudah diamatinya selama ini. “Kita harus menjaga harga diri orang miskin agar mentalnya tidak ikut miskin,” kata bapak saya.

Saat lebaran tiba, bapak saya masih kuat menerima ribuan tamu yang datang silih berganti tiada henti dari pagi hari hingga pukul sepuluh malam. Ketika saya sampaikan, “Pak, pintu rumahnya ditutup dulu, bapak istirahat. Tamu kalau dituruti ya gak pernah berhenti.”

Mendengar usulan itu, bapak saya justru menasihati, “Jamil, tamu itu ketika datang membawa berkah. Saat mereka pulang, mereka membawa dosa-dosa kita tanpa menambah dosanya. Sungguh rugi bila uang kamu banyak, tapi tamu ke rumahmu sedikit.”

Saya pun tertegun. Saya berusaha berlatih memuliakan tamu-tamu yang datang ke rumah orang tua saya walau terkadang rasa kantuk dan lelah datang. Mau istirahat malu kepada orang tua saya. Mereka terlihat renta, namun semangatnya menerima tamu mengalahkan saya yang jauh lebih muda. “Jamil, yang membahagiakan bapak saat ini adalah bukan banyaknya uang tapi banyaknya tamu yang datang ke rumah,” ucap bapak saya di sela-sela menerima tamu yang datang.

Ya, bapak saya memang hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR) alias sekolah dasar (SD) zaman dulu. Tetapi ia adalah guru besar kehidupan saya. Darinya saya banyak belajar dari hal-hal yang sederhana hingga masalah umat dan negara. Darinya saya belajar bagaimana menjadi seorang lelaki, orang tua, suami dan hal-hal yang harus diprioritaskan dalam menjalani kehidupan.

Semoga kelak, saya pun bisa menjadi guru besar bagi anak-anak saya…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

13 thoughts on “Bapakku Guru Besarku”

  1. Luar biasa mak Jleeb kek, salam buat ayahanda..

    1. Terima kasih masi Davied, in sya Allah disampaikan

  2. Aamiin.
    Subhanallah Ayahanda Uyut …
    Merinding membacanya, salam hormat kepadanya.
    InsyaAllah ikhtiar dan silaturahim membawanya ke tempat yang Mulia.

    1. Amin YRA. Apa kabar sibuk nikmat? 🙂

      1. Alhamdulillah Sibuk Nikmat ::)
        Kakek dan keluarga bagaimana ?
        Semoga kakek dan keluarga sehat selalu.

  3. Ora Dadi Opo says:

    “Usia boleh tua, semangat masih empat lima”

    kena kek sama nasehat guru besar kakek… iya saya pun kalah sama ketahanan kantuk guru besar kakek… 🙂

    1. Ayo berlatih, jangan kalah 🙂

  4. ima says:

    Bapak nya memang hebat Pak.

  5. Andi Badren says:

    Minal aidn walfa idzn kek, mohon maaf batin dan lahir. M u Kek,,

  6. hemmmm, sedang sedang membayangkan rumah yang lapang itu… bisa menampung datangnya ribuan orang dan semuanya pulang dengan hati senang… sudahkah rumahbesar kita juga selapang rumahnya Kakek? SEMOGA!

  7. Nungke Ibrahim says:

    Orang hebat yang melahirkan orang hebat

    Salam ta’dzim untuk belIa sang guru BESAR

  8. Kek, kenapa ya, orang tua itu “punya kemampuan” itu. Mereka ngomong sederhana, tetapi jlebbbb… sering kali pendidikan mereka jauh dibawah kita. Tetapi kata-kata mereka selalu “powerful”… Dari tulisan di atas, sepertinya Bapak Pak Jamil bijak sekali…

  9. Mohon maaf, saya iri dengan Bapak. Pulang bisa membawa oleh-oleh yang tiada duanya, mahal bukan main. Saya malu, karena sering kali pulang balik “tanpa oleh-oleh”, meskipun bawaan kerdus dan makanan begitu banyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published.