Bahagia Menjadi Pecundang

“Ingatlah di dalam jasad manusia itu ada sepotong daging, tatkala sepotong daging itu baik, baiklah jasad keseluruhannya dan tatkala rusak (sepotong daging itu), maka rusaklah jasad keseluruhannya. Ingatlah dia itu hati”

(HR An Nu’man bin Basyiir – Mustafaqu alaih)

***

Imam Ghazali memberikan dua pengertian tentang hati, yakni: [1] bersifat material, bahwasanya hati merupakan segumpal daging sanubari yang terletak di sebelah kiri dada; [2] bersifat immaterial, dimana hati merupakan rasa ruhaniah yang halus yang berkaitan dengan hati jasmani. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hati merupakan organisme (bersifat hidup) yang mengerti dan mengelola sesuatu yang halus terkait dengan dua kutub kehidupan: baik atau buruk.

Ironis memang, di tengah dunia ephemera, mayoritas manusia justru terjebak dalam mindset kebendaan, sehingga segala sesuatunya selalu disilogismekan dengan otak (baca: hitung-hitungan/ pragmatis). Tak ayal, mindset demikian justru hanya berujung pada kehilangan dan kerusakan (perhatikan global warming), karena dengannya manusia tak akan pernah merasa cukup.

Seperti penuturan Ibnul Mubarok:

“Orang yang terlalu banyak meneliti pasti sering merasa kehilangan. Orang yang banyak bersiap siaga dengan ketabahan, pasti tidak akan pernah menyerah”.

***

Seringkali pribadi yang mengedepankan hatinya untuk berlogika dan beretorika dianggap cengeng dan pecundang dalam segala sistem kehidupan yang notabene bersifat pragmatis. Akan tetapi, jika demikian adanya maka aku bahagia dan bangga menjadi cengeng dan pecundang!!!

Believe it or not, pribadi yang selalu mengasah hatinya, mampu dengan tegas berani mengatakan “TIDAK” terhadap hal-hal yang bersifat haram dan mengandung syubhat. Pribadi tersebut juga mampu mengatakan “CUKUP” terhadap kenikmatan yang memanjakan dirinya, yang seringkali membuat lalai dan lupa. Pribadi yang demikian niscaya memiliki intuisi yang tajam dalam mengambil keputusan bagi hidupnya. Dengan sendirinya, secara alami pribadi demikian akan dengan mudah menggapai simpati dan kasih sayang dari sesama.

***

Believe it! Hati selalu membawa pada keselamatan. Sedangkan pikiran yang selalu berpangkal pada ketidakpuasan seringkali melahirkan keragu-raguan, yang justru berujung pada kerusakan atau bahkan kehilangan.

Mungkin itulah sebabnya, rambu-rambu pengingat di jalan selalu bertuliskan ” HATI-HATI DI JALAN!”, bukan “PIKIR-PIKIR DI JALAN!”. Selayaknya dalam rambu-rambu kehidupan, dengan hati-hati dan menjadi “kehati-hatian” insya4JJI manusia akan selamat sampai pada tujuan akhir kehidupan.

***

“Ya Allah, aku tidak pernah percaya dengan nafsuku sendiri karena selalu mengajak (cenderung) berbuat tidak baik, kecuali Engkau memberikan rahmat kepada nafsu ini” (QS. Yusuf:53)

aeplopyu – @cakaep

Bagikan:

3 thoughts on “Bahagia Menjadi Pecundang”

  1. ASMUNI says:

    jadi, teringat lagunya AA Gym, bila hati kian bersih, pikiran pun akan jernih… prestasi mudah diraih.. 🙂 #jagalah hati…

  2. EventJogja.Com says:

    potensi manusia memang ada 2, kebaikan dan keburukan. selalu ada hasrat di hati manusia, tetapi juga terkandung sifat potennsi utk mensyukuri, qonaah 🙂
    salam……….

  3. Ora Dadi Opo says:

    Subhanallah, rangkaian katanya kerON_!

Leave a Reply

Your email address will not be published.