Antara Jantung dan Otak

Rima OliviaPerhatikan napas Anda. Ditarik, dihembuskan. Perhatikan dada Anda ketika bernapas: naik dan turun. Ucapkan syukur sekarang juga, karena artinya Anda masih dihadiahi hidup!

Beberapa bulan yang lalu gerakan naik dan turun menjadi penting sekali bagi saya. Grafik yang memantau detak jantung dan irama napas menjadi fokus selama 41 hari ayah saya di ruang ICVCU (Intensive Cardio Vasculer Care Unit), seolah menjadi pusat kehidupan kami, anak-anaknya.

BBM group keluarga yang berisi tema yang sama:”Hari ini jantung Papa agak tinggi”, “Napasnya masih ngos-ngosan”. “Kesadarannya menurun lagi.” “Mudah-mudahan gak gagal napas.”

Napas spontan bagi semua orang adalah biasa. Apa susahnya. Namun napas menjadi anugrah luar biasa bagi mereka yang mengandalkan pada alat ventilator ‘hanya’ untuk bernapas. Jarang kita syukuri napas. Tapi coba lah membuka terus-menerus mulut Anda, dan bayangkan ada alat yang terus mengikat di kerongkongan agar udara masuk. Nyamankah?

Kadang memang perlu sebuah terapi kejut untuk menyadari, sesungguhnya kita selalu dilimpahi anugerah. Besar atau kecil menjadi tidak penting. Anugerah napas yang kita kira kecil, menjadi satu-satunya yang paling kita inginkan ketika DIA mengujinya lewat sakit. Manusia kemudian ingin mengendalikannya, memantaunya dengan berbagai alat, disertai harapan besar untuk hidup.

Hingga akhirnya suatu malam, seperti disadarkan inilah saatnya melepaskan. Saya mengalihkan pandangan dari grafik itu, fokus mengantarkan beliau dengan kalimat tahlil. Sebuah pelajaran penting bahwa napas adalah anugerah.

Bagi kami, ini shock kedua. Lima tahun yang lalu, ibu kami akhirnya menang melawan kanker, hingga akhirnya pergi dengan tenang setelah dua tahun terus menerus sakit. Metastase brain tumor. Ada tumor ganas di otaknya ganglio blastoma, namanya. Tumor ini perlu diangkat ‘hanya’ sebagai perpanjangan usia saja. Mengurangi rasa sakit kepala hebat yang membuat beliau kejang dan bisa jatuh pada koma.

Tumor itu sudah diketahui demikian ganas. Sehingga jika tidak diangkat akan bertumbuh dengan cepat, namun diangkat, juga akan tumbuh lagi.

Satu setengah tahun kemudian setelah tumor diangkat, ibu saya tidak bisa mobile. Kemampuan mobilisasinya hilang. Seluruh kegiatan dilakukan di atas tempat tidur. Kondisinya terus menurun, seolah hanya memberikan kesempatan singkat kepada kami, empat anaknya, agar terus menikmati detik demi detik hingga hari terakhirnya. Satu dari ribuan pelajaran selama menunggui ibu sakit adalah: bergerak itu mahal. Sebuah gerakan pada jarinya saja, menjadi perbincangan seharian.

Sebuah senyum dan lirikan pada mata, membuat kami kegirangan. Tubuh kita yang dipinjamkan ini, suatu saat tidak mau menurut perintah kendali otak kita. Seolah dia berada di luar kendali kita. Bergerak itu anugerah.

Dua orang tua yang mengantarkan saya ke dunia ini mengalami pergi dengan penyakit pada organ penting bagi hidup: otak dan jantung. Tidak ada yang kebetulan. Ketika belasan tahun lalu, saya sangat tidak menyukai psikologi faal, lalu tiba hari-hari terus berdiskusi tentang otak dengan dokter bedah syaraf. Menjelaskan pada saya, betapa sedikitnya yang diketahui manusia tentang organ yang ada di antara kedua telinganya.

Benda yang kita pikir sangat kita andalkan itu, sesungguhnya tidak berada dalam kendali kita. Tuhan yang maha berkehendak.

Mengendalikan. Sebuah kata yang kadang manusia pikir ia miliki. Tapi, sepanjang Anda membaca tulisan ini, apakah Anda menghitung berapa kali Anda mengedipkan mata? Seberapa frekuensi detak jantung yang baik agar tetap berkonsentrasi membaca tulisan ini? Apakah Anda ketika Anda membaca, Anda tahu posisi tangan, kaki, kepala, tubuh Anda? Tidak.

Terlalu banyak hal yang sebetulnya sudah diatur oleh Sang Maha Mengatur. Bersyukur sudah diatur, karena jika kita mengandalkan kesadaran kita untuk bernapas dan berkedip saja, maka mustahil kita bisa melakukan tugas-tugas lainnya.

Seperti napas yang ditarik dan dilepaskan, segala sesuatu memang adalah antara datang dan pergi. Begitu juga hidup, berada antara mengendalikan dan memasrahkan. Bersyukurlah jika hidup Anda sedang naik dan turun, karena sedang ada kehidupan di sana. Kehidupan yang sedang dihadiahkan pada Anda, dan dapat diambil kapan saja Sang Maha Pemilik menghendaki.

Bersyukur adalah merayakan kehidupan, menyebarkan manfaat. Bersyukur adalah menyadari setiap titik dan detik adalah anugerah kesempatan untuk memilih perbuatan terbaik yang akan mengantarkan kita kepadaNYA.

Rima Olivia

Bagikan:

4 thoughts on “Antara Jantung dan Otak”

  1. EventJogja.Com says:

    merinding bacanya, bersyukur harus selalu dijaga yah, bahkan untuk hal yg paling kecil yakni bernafas, harus sering2 ingat kalanya sakit 🙂

  2. bach says:

    nangis,,,,,,bacanya

  3. Zuhandri says:

    Belajar bersyukur melalui tulisan ini (y)

  4. Rahmat E. Siregar says:

    Alhamdulillaah…terima kasih Mbak Rima. Tulisan ini memberikan semangat kepada saya yang sedang mengalami naik dalam salah satu aspek kehidupan, dan turun dalam aspek kehidupan lainnya.

    Benarlah firman Nya, “Maka nikmat tuhan kamu yang manakah yang engkau dustakan ?” yang diulang-ulang sebanyak 31 kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published.