Anakku Dihukum di Sekolah

Anakku-Dihukum-di-Sekolah.jpg

Hari Sabtu pekan lalu, sebelum saya berangkat memberikan Seminar di salah satu BUMN, saya mampir ke sekolah anak saya Hana. Sengaja saya ingin berjumpa dengan gurunya karena Hana mendapat sanksi atau hukuman atas kesalahan yang dilakukannya. Bukan untuk protes ke guru SMAIT Insantama Bogor tetapi menghormati guru yang begitu perhatian kepada anak saya.

Usai saya jumpa walikelas dan guru Bimbingan Konseling (BK), saya menemui Hana. Ia memeluk saya erat-erat sambil menangis, saya pun membalasnya dengan pelukan. Sambil menangis Hana mengajukan beberapa pertanyaan “bapak gak marah khan sama Hana? Bapak gak kecewa khan punya anak seperti Hana?” Saya jawab “bapak bangga punya anak Hana. Hukuman dari sekolah bukanlah suatu dosa, itu untuk melatih agar kamu semakin disiplin. Bapak bangga kamu bersedia dan menerima dihukum oleh sekolah.”

Dengan tetap memeluk dan terisak, Hana melanjutkan pertanyaan “kenapa sich pak harus ada hukuman?” Saya menjawab “sekolah bisa kacau bila tidak ada aturan, dan yang melanggar aturan tentu perlu dihukum. Di perusahaan bapak juga ada aturan, yang melanggar aturan juga bapak hukum. Saat bapak menghukum karyawan, itu bukan karena bapak benci dengan dia tetapi supaya semua tertib dan kebaikan bagi semua termasuk kebaikan bagi yang melanggar. Sekolah menghukum kamu karena para guru sayang kepadamu.”

Entah mengapa Hana memeluk saya semakin erat, ia bertanya lagi “nanti saya diledek temen, menjadi bahan omongan temen.” Saya pun menenangkannya “dijelek-jelekin temen tidak akan membuat kamu jelek tetapi malah mengurangi dosa. Kalau kamu sabar itu meningkatkan derajat kamu. Yang membuat kamu jelek kalau kamu membalas dengan menjelek-jelekan mereka. Cool and calm saja, itu yang membuatmu semakin anggun sebagai seorang wanita.”

Kini, Hana mengungkapkan kegelisahannya “mbak Hana khan dihukum gak boleh pulang ke rumah selama sebulan, terus ngapain dong?” Sembari memeluk dan mengusap kepalanya saya berkata “bapak dan mama akan nengok kamu. Selama di asrama kamu jadikan kesempatan untuk mengenal teman kamu yang orang tuanya jauh. Dekati mereka, buat acara yang menarik dengan mereka. Ini juga latihan kalau nanti kamu tinggal jauh dengan keluarga. Menurut kamu, apa kegiatan yang enjoy buat kamu?”

Anak perempuan saya yg tahun ini genap berusia 17 tahun mengajukan pertanyaan lagi “mbak Hana gak membuat bapak malu khan?” Saya jawab “bapak malu kalau kamu berbuat maksiat dan dosa. Melanggar aturan sekolah itu bukanlah suatu dosa, itu hanya kesalahan. Tidak semua kesalahan itu dosa. Bapak malu kalau kamu keluar sekolah telanjang sambil joget dan nyanyi.” Kami pun tertawa.

Moment itu membuat saya sangat happy karena bisa memeluk Hana lebih dari 40 menit sembari ngobrol dan menjawab pertayaan-pertanyaannya yg terus mengalir tiada henti. Terkadang air mata saya pun ikut menetes. Haru dan bangga menyatu menjadi satu. Semoga Hana menjadi wanita yang semakin hebat dan kuat serta banyak memberi manfaat untuk umat dikemudian hari. Doakan kami.

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership
Founder Akademi Trainer
Inspirator SuksesMulia

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.