Alasan “Emosional”

powerful.jpg

Ternyata, ada orang yang kerja asal kerja, asal ngisi absensi, asal setor muka. Di kantor, orang jenis ini diberi gelar karyawan 805. Artinya, jam 08 pagi ngisi absensi setelah itu kosong alias tidak ada pekerjaan dan jam 05 sore ngisi absensi lagi kemudian pulang. Semoga Anda tidak termasuk kelompok ini sebab kelompok ini tidak tahu malu dan pemakan gaji buta.

Ada karyawan atau pegawai yang lebih baik dari kelompok tersebut di atas. Kelompok ini, kelompok rata-rata, bekerja sesuai dengan job description, terjebak rutinitas. Bila ada pekerjaan tambahan, ia menuntut uang lemburan. Tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan begitu pula tidak ada kesalahan yang berarti dalam bekerja. Ia seperti robot berbentuk manusia.

Sementara ada juga kelompok karyawan yang enjoy banget saat bekerja, larut dalam pekerjaan. Bekerjanya tidak transaksional, ia menyukai tantangan baru dan bekerja dengan penuh suka cita. Apa yang membuatnya bisa demikian? Salah satunya adalah karena mereka punya alasan emosional saat bekerja.

Mereka tahu mengapa mereka harus bekerja sebaik-baiknya. Mereka tahu banyak sisi positif dari pekerjaannya. Mereka tahu bahwa pekerjaannya itu sangat berarti. Mereka tahu banyak manfaat dari pekerjaan yang ia lakukan. Mereka tahu bahwa pekerjaannya bukan hanya menghasilkan rupiah tetapi juga bernilai ibadah.

Biasanya, alasan emosional yang terkuat adalah alasan yang berbasis spiritual, keluarga, kepedulian, dan legacy yang ingin ditinggalkan kepada generasi setelahnya. Setiap saya menetepakan target dan melakukan sesuatu yang menantang, saya selalu mencari apa alasan emosional yang ada. Dan itu membuat energi saya membuncah seolah tak pernah lelah.

Saya punya alasan emosional yang kuat mengapa saya serius menekuni dunia training dan melahirkan banyak trainer. Maka walau dalam sepekan ini, saya berkeliling Jakarta, Surabaya, Makassar, Bali, Bogor, Surabaya lagi dan Malang, saya enjoy menjalaninya.

Saya juga punya alasan emosional yang kuat mengapa saya menulis buku Speak To Change (diterbitkan Gramedia) yang akan launching pada 28 Oktober 2015, pukul 08.00-12.00 di Mercure Hotel, Hayam Wuruk, Jakarta. Buku lebih dari 300 halaman ini saya tulis dalam waktu hanya satu pekan, siang dan malam. Saya larut dan enjoy saat menulisnya. Terkadang saya tersenyum, menangis, melompat dan teriak menyebut nama-Nya.

Penasaran dengan isi bukunya? Silakan hadir di acara tersebut. Tempat terbatas. Segera telepon ke 0812-9032-0101 atau 0812-1331-710. Khususnya bagi Anda yang ingin punya kemampuan bicara untuk peningkatan karir atau bisnis Anda. Sangat tepat juga untuk para pimpinan yang punya tanggungjawab mengembangkan SDM di perusahaan.

Boleh tahu, apa alasan emosional Anda bekerja atau berbisnis saat ini?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

4 thoughts on “Alasan “Emosional””

  1. taufik says:

    Pak Jamil,

    Lagi, terima kasih atas tulisan Inspiratif nya. Smoga Pak Jamil dan kita semua selalu ada dalam keberkahan Alloh SWT.

    Kalau boleh share, alasan emosional saya dalam bekerja adalah ingin memanfaatkan potensi yang Alloh berikan kepada saya sehingga pada saat mati nanti ada kepuasan tersendiri karena ada sesuatu yang bermanfaat (dan semoga berarti) sudah ditinggalkan dan dilakukan di dunia ini semasa hidup. Semoga istiqomah. Amiin

    1. Jamil Azzaini says:

      Semoga teroptimalisasi ya….

  2. wahyu says:

    terima kasih Pak Jamil… kalau saya alasan.a Ibu deh (mainstream) tp tak apalah… hahaha

    1. Jamil Azzaini says:

      Salam kenal buat ibu…

Leave a Reply

Your email address will not be published.