Aku Tak Sanggup Menjadi Istri

Share this
  • 391
  •  
  •  
  •  
  •  
    391
    Shares

Usai memberikan seminar di Pelindo 2 Tanjung Priok kemarin, saya mendapat whatsapp dari istri. Isinya tentang permintaan tolong mampir di pusat perbelanjaan untuk belanja keperluan anak-anak dan kebutuhan dapur. Saya senang mendapat whatsaap ini. Namun, begitu saya belanja sesuai dengan daftar yang sudah saya terima, ternyata “ribet” juga ya, hehehehe. Padahal saya sudah meminta bantuan petugas di pusat perbelanjaan itu.

Sepanjang perjalanan pulang saya merenung “ah, betapa berat dan “ribetnya” tugas istri.” Dia harus bangun tidur lebih cepat dibandingkan anggota keluarga yang lain untuk menyiapkan makan sahur. Apabila makanan yang disajikan dikomplain oleh anggota keluarga, dia bukannya marah tetapi wanita mulia itu justeru yang meminta maaf.

Saat subuh tiba, dengan sabar ia menanti anak perempuannya satu per satu keluar dari kamar mandi untuk diajak sholat berjamaah. Ia menjadi imam bagi putri-putrinya. Ia yang paling lama berdoa. Ia yang membereskan sajadah bila putrinya lupa melipatnya. Ia yang mengingatkan kami semua untuk membaca kita suci di pagi hari.

Tak cukup itu, dialah yang memastikan keperluan sekolah anak-anaknya. Dia pula yang mengantarkan anaknya ke sekolah. Saat saya menyiapkan sopir untuk mengantar anak ke sekolah, dia berkata “tidak pak, ini kesempatan saya ngobrol dengan anak. Lumayan di dalam mobil bisa ngobrol dari hati ke hati sekaligus menggali potensi.”

Apakah setelah itu istri berleha-leha? Tidak. Ia harus menjalankan bisnis di rumah yang sudah lama ditekuninya. Ia harus menghadapi liku-liku bisnis yang terkadang menguras air matanya. Sebagai pimpinan bisnis, ia harus memimpin rapat, mengarahkan timnya dan berhubungan dengan stake holder bisnisnya.

Baca Juga  Berpadunya Karir dan Keluarga

Bahkan diantara kesibukan bisnisnya, ia harus mendengar “curhatan” saya baik langsung maupun lewat telepon. Dia yang menentramkan hati saya. Dia yang menjaga semangat saya. Dia yang memberi suntikan energi bagi saya. Terkadang, ia pun saya minta untuk menemani saya bila saya berpergian. Dan dengan sukarela ia tinggalkan bisnisnya untuk sekedar memenuhi permintaan saya.

Saat malam menjelang, istrilah yang menemani anak mengerjakan tugas sekolah. Walau saya sudah pilihkan sekolah bagi anak-anak yang tidak ada pekerjaan rumah (pe-er), namun tekadang masih ada pe-er yang perlu diselesaikan anak. Dan yang lebih banyak mendampingi anak mengerjakan tugas itu adalah istri saya. Anak-anak lebih nyaman mengerjakan tugas sekolah bersama ibunya dibandingkan dengan saya.

Ah, saya benar-benar tidak sanggup bila harus menjadi seorang istri.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini


Share this
  • 391
  •  
  •  
  •  
  •  
    391
    Shares

24 comments On Aku Tak Sanggup Menjadi Istri

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer